Aceh Berduka Kronologi Banjir Besar yang Melumpuhkan Serambi Mekkah dan Renggut Ratusan Nyawa
ACEH – BORNEOSINARTVNEWS :◊Tanah Serambi Mekkah kembali dirundung duka mendalam. Sejak akhir tahun 2025 hingga memasuki Januari 2026, rangkaian banjir besar telah mengubah wajah pemukiman warga menjadi lautan lumpur dan meninggalkan luka yang menganga bagi ribuan keluarga Jumat(09/01/2026)
Awal Bencana: Langit Kelabu di Akhir November
Duka bermula pada penghujung November 2025. Hujan yang turun tanpa henti akibat siklon tropis memicu luapan sungai-sungai besar di Aceh Utara dan Aceh Timur. Dalam sekejap, ribuan rumah terendam, memaksa warga meninggalkan harta benda demi menyelamatkan nyawa di tengah kegelapan malam.
Desember Hitam: Puncak Krisis dan Kehilangan
Bulan Desember menjadi periode paling kelam. Banjir meluas hingga ke 18 kabupaten/kota, mengisolasi desa-desa, dan memutus akses komunikasi. Suara gemuruh air yang menghanyutkan bangunan menjadi trauma tersendiri bagi masyarakat. Tercatat ratusan nyawa melayang dan puluhan warga dinyatakan hilang terseret arus atau tertimbun longsor di wilayah pegunungan.
Januari 2026: Harapan yang Kembali Terendam
Memasuki tahun baru, di saat warga mulai mencoba bangkit dan membersihkan sisa-sisa lumpur, alam kembali menguji kesabaran mereka. Pada 8 Januari 2026, banjir susulan setinggi 1,5 meter kembali menerjang Lhoksukon dan sekitarnya.
Pendidikan di Tengah Duka: Anak-anak sekolah terpaksa belajar di tenda darurat tanpa seragam.
Pengungsian yang Panjang: Lebih dari 67.000 jiwa masih bertahan di posko-posko dengan fasilitas seadanya.
Status Tanggap Darurat Diperpanjang
Melihat kondisi yang kian memprihatinkan, Pemerintah Aceh secara resmi memperpanjang Status Tanggap Darurat hingga 22 Januari 2026. Fokus utama saat ini adalah memastikan distribusi logistik menjangkau daerah terisolasi dan mendata rumah-rumah yang hanyut untuk mendapatkan bantuan renovasi.
Catatan Redaksi: Mari bersama panjatkan doa dan ulurkan tangan untuk saudara-saudara kita di Aceh. Perjuangan mereka menuju pemulihan masih sangat panjang.
reporter tim borneosinsrtv (yuni/dtg/gton)











