BERAU-BORNEOSINARTVNES Pemerintah Kampung Harapan Jaya, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau, kini tengah menerapkan strategi kebijakan anggaran yang ketat. Di tengah ketidakpastian pencairan anggaran tahun 2026, Kepala Kampung Harapan Jaya, Ali Sasmirul, menekankan pentingnya efisiensi dan sinergi antar-lembaga demi tetap berjalannya roda pemerintahan dan pelayanan masyarakat.
Dalam wawancara eksklusif bersama Borneo Sinar TV di kediamannya pada Rabu (22/04/2026), Ali Sasmirul membeberkan dinamika yang terjadi di tingkat kampung saat ini. Menurutnya, keterlambatan pencairan dana APBDes tahun 2026 menuntut pemerintah kampung untuk lebih selektif dalam menetapkan skala prioritas pembangunan.
Strategi “Ikat Pinggang” di Tengah Keterlambatan
Ali mengungkapkan bahwa memasuki akhir April, proses pencairan anggaran baik dari pemerintah kabupaten maupun pusat belum menunjukkan kepastian. Hal ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Ia mengaku harus berhati-hati agar tidak mengulangi kendala tahun lalu, di mana kegiatan sudah terealisasi namun dananya tidak cair. Kondisi ini membuat Ali menginstruksikan jajarannya untuk melakukan langkah “ikat pinggang”.
”Tahun kemarin banyak rekan Kepala Kampung yang terdampak. Banyak yang sudah merealisasikan kegiatan, ternyata dananya tidak keluar. Karena itu, tahun ini kami harus benar-benar berhati-hati dan mengedepankan skala prioritas,” ujar Ali.
Dua Skema Pendanaan yang Berjalan
Meski dalam kondisi keterbatasan, Ali memastikan program-program mendasar bagi masyarakat tetap menjadi perhatian. Ia menjelaskan bahwa ada dua skema pendanaan yang berjalan di Kampung Harapan Jaya:
Anggaran Kabupaten: Menjalankan visi misi Bupati yang mencakup tunjangan dai, tunjangan kematian, serta dukungan operasional untuk sekolah minggu dan TPA.
Dana Desa (APBN): Dialokasikan untuk program kesejahteraan seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), penanganan kesehatan masyarakat (pencegahan stunting), dan operasional Posyandu Prima.
Selain program sosial, Ali menegaskan bahwa pembangunan fisik seperti jembatan tetap dilakukan sepanjang anggaran tersedia, demi menunjang ekonomi kerakyatan.
Tantangan SDM dan Digitalisasi
Dalam kesempatan tersebut, Ali juga mengakui adanya tantangan besar terkait kapasitas sumber daya manusia (SDM) di aparatur kampung. Ia secara terbuka menyoroti disparitas kemampuan administratif antara wilayah luar Pulau Jawa dengan daerah di Jawa dalam merespons regulasi yang semakin ketat dan serba digital.
”Aparatur kita belum sepenuhnya mumpuni, terutama dalam memahami regulasi yang detail. Apalagi sekarang semua serba digital, pakai Zoom, dan persyaratan administrasi yang makin cepat. Ini menjadi salah satu kelemahan yang terus kita perbaiki,” jelasnya.Ajakan Berhenti Bersikap Egois
Menutup perbincangan, Ali Sasmirul. memberikan pesan tegas kepada seluruh stakeholder di lingkungan pemerintahan. Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan kampung mustahil dicapai tanpa kerja sama lintas sektor.
”Dalam membangun kampung, tidak bisa lagi bekerja dengan ego sektoral atau egosentrik kedinasan. Semuanya harus saling mendukung, baik antar instansi, pihak ketiga, maupun pemerintah kampung. Jika kita egois, pembangunan masyarakat yang akan terhambat,” tegas Ali.
Dengan segala keterbatasan yang ada, Pemerintah Kampung Harapan Jaya berkomitmen untuk tetap memaksimalkan potensi yang ada agar pelayanan kepada warga tidak terganggu, sembari menunggu kepastian pencairan anggaran tahun 2026.
Reporter: Redaksi Borneo Sinar TV
Lokasi: Kecamatan Segah, Berau (Rasidin/Hrs)











