Menu

Mode Gelap
Panen Jagung Kuartal III di Kecamatan Balongbendo Ciomy Konsisten Dukung Dakwah, Hadir dalam Dakwahthon Season 2 untuk Palestina LSM LIRA Sidoarjo Bagikan BBM Gratis untuk Ratusan Ojol Memahami AEO, GEO, dan LLMO: Tiga Pendekatan Baru di Era AI Search Lupakan Arabika dan Robusta! Kopi Liberika Sembakungan Siap Jadi Identitas Baru Berau!

Nasional · 12 Apr 2026 16:35 WITA ·

Komitmen dan Konsistensi: Menakar Krisis Etika dan Moral di Tengah Arus Kapitalisme


 Komitmen dan Konsistensi: Menakar Krisis Etika dan Moral di Tengah Arus Kapitalisme Perbesar

BANTEN-BORNEOSINARTVNEWD  Krisis integritas yang melanda tatanan sosial dan pejabat publik menjadi sorotan tajam dalam refleksi terbaru yang disampaikan oleh pengamat sosial, Jacob Ereste. Dalam tulisannya yang dirilis di Banten (13/1/2026), Ereste menekankan bahwa komitmen dan konsistensi adalah alat ukur (penakar) utama bagi etika, moral, dan akhlak mulia yang bersifat Ilahiyah.

​Fenomena “Menggunting dalam Lipatan”

​Ereste menyoroti dinamika sosial di mana pengkhianatan sering kali dianggap sebagai jalan pintas menuju kepuasan semu. Fenomena seseorang yang meninggalkan kelompok atau prinsip demi menyeberang ke pihak lawan demi keuntungan pribadi, digambarkannya dengan pepatah lama “menggunting dalam lipatan.”

​”Bagi pihak yang ditinggalkan, tindakan tersebut dirasakan sebagai pengkhianatan yang tragis. Ini seperti drama satire yang mendapat aplaus namun terjebak dalam ketidakpastian hukum di negeri ini,” tulis Ereste.

​Kapitalisme dan Hilangnya Nilai luhur

​Lebih lanjut, ia mencermati bahwa sikap ugahari (sederhana) dan rendah hati kini mulai tergerus oleh arus kapitalisme yang bersifat individualistis. Nilai-nilai spiritual, gotong royong, dan kekeluargaan dianggap mulai dicampakkan ke “keranjang sampah” demi mengejar materi.

​Ereste juga mengkritik keras perilaku mereka yang menggunakan kekayaan hanya untuk mendominasi pihak lain tanpa memahami esensi filosofis dari kesejahteraan itu sendiri.

​Komodifikasi Moral dan Jabatan Publik

​Sorotan paling tajam dalam tulisan ini tertuju pada perilaku oknum pejabat publik. Ereste memandang bahwa sumpah jabatan atas nama Tuhan sering kali hanya menjadi formalitas belaka.

​”Perilaku khianat dan ingkar janji seolah menjadi prosedur untuk segera kaya raya. Bahkan, dana untuk ibadah haji pun ditilep,” ungkapnya dengan nada miris. Ia menegaskan bahwa tanpa komitmen terhadap rakyat, etika dan moral hanya akan menjadi komoditas yang diperjualbelikan.

​Kesimpulan: Hakikat Ilahiyah

​Sebagai penutup, Ereste mengingatkan bahwa nilai kemanusiaan yang paling hakiki terletak pada sejauh mana seseorang mampu menjaga konsistensi antara ucapan dan tindakannya. Komitmen tersebut bukan sekadar tanggung jawab sosial, melainkan bentuk pertanggungjawaban kepada Sang Pencipta.

​”Begitulah komitmen dan konsistensi setiap orang menjadi penakar etika, moral, dan akhlak mulia kemanusiaannya yang paling hakiki, karena bersifat Ilahiyah,” pungkasnya.

​Penulis: Tim Redaksi

Sumber: Refleksi Jacob Ereste (Banten, Januari 2026)

Artikel ini telah dibaca 22 kali

badge-check

Redaksi

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Ciomy Konsisten Dukung Dakwah, Hadir dalam Dakwahthon Season 2 untuk Palestina

29 Juli 2026 - 01:22 WITA

LSM LIRA Sidoarjo Bagikan BBM Gratis untuk Ratusan Ojol

29 Juli 2026 - 00:58 WITA

Ketua KAKI Jatim Apresiasi Kinerja Kajari Bangkalan

24 Juli 2026 - 14:52 WITA

Mandor Kilap Dukung Jamaludin Pimpin Desa Satriajaya

22 Juli 2026 - 10:44 WITA

Virlal Pria Bugil Terima Ojol di Sidoarjo, Polisi Tempuh Jalur Pembinaan

17 Juli 2026 - 15:56 WITA

Ormas Jawara Bersatu Perkuat Sinergi dengan Forkopimka Prambon

15 Juli 2026 - 12:39 WITA

Trending di Nasional