Menu ✖

Mode Gelap
Waspada! Peredaran Uang Palsu Kembali Marak di Berau SPBU Gunung Tabur Maluang Jadi Korban Waspada Peredaran Uang Palsu Kembali Marak di Berau, SPBU Gunung Tabur Maluang Jadi Korban Oknum Advokat Tersangka Penipuan Rp520 Juta Ditangkap di Mojokerto Gelora Sumpah Pemuda: Bersatu Bangun Negeri! Klarifikasi Pungutan Sewa Tenda Berau Expo Rp4,5 Juta Mengalir ke Mana ??

Nasional · 12 Apr 2026 16:35 WITA ·

Komitmen dan Konsistensi: Menakar Krisis Etika dan Moral di Tengah Arus Kapitalisme


 Komitmen dan Konsistensi: Menakar Krisis Etika dan Moral di Tengah Arus Kapitalisme Perbesar

BANTEN-BORNEOSINARTVNEWD  Krisis integritas yang melanda tatanan sosial dan pejabat publik menjadi sorotan tajam dalam refleksi terbaru yang disampaikan oleh pengamat sosial, Jacob Ereste. Dalam tulisannya yang dirilis di Banten (13/1/2026), Ereste menekankan bahwa komitmen dan konsistensi adalah alat ukur (penakar) utama bagi etika, moral, dan akhlak mulia yang bersifat Ilahiyah.

​Fenomena “Menggunting dalam Lipatan”

​Ereste menyoroti dinamika sosial di mana pengkhianatan sering kali dianggap sebagai jalan pintas menuju kepuasan semu. Fenomena seseorang yang meninggalkan kelompok atau prinsip demi menyeberang ke pihak lawan demi keuntungan pribadi, digambarkannya dengan pepatah lama “menggunting dalam lipatan.”

​”Bagi pihak yang ditinggalkan, tindakan tersebut dirasakan sebagai pengkhianatan yang tragis. Ini seperti drama satire yang mendapat aplaus namun terjebak dalam ketidakpastian hukum di negeri ini,” tulis Ereste.

​Kapitalisme dan Hilangnya Nilai luhur

​Lebih lanjut, ia mencermati bahwa sikap ugahari (sederhana) dan rendah hati kini mulai tergerus oleh arus kapitalisme yang bersifat individualistis. Nilai-nilai spiritual, gotong royong, dan kekeluargaan dianggap mulai dicampakkan ke “keranjang sampah” demi mengejar materi.

​Ereste juga mengkritik keras perilaku mereka yang menggunakan kekayaan hanya untuk mendominasi pihak lain tanpa memahami esensi filosofis dari kesejahteraan itu sendiri.

​Komodifikasi Moral dan Jabatan Publik

​Sorotan paling tajam dalam tulisan ini tertuju pada perilaku oknum pejabat publik. Ereste memandang bahwa sumpah jabatan atas nama Tuhan sering kali hanya menjadi formalitas belaka.

​”Perilaku khianat dan ingkar janji seolah menjadi prosedur untuk segera kaya raya. Bahkan, dana untuk ibadah haji pun ditilep,” ungkapnya dengan nada miris. Ia menegaskan bahwa tanpa komitmen terhadap rakyat, etika dan moral hanya akan menjadi komoditas yang diperjualbelikan.

​Kesimpulan: Hakikat Ilahiyah

​Sebagai penutup, Ereste mengingatkan bahwa nilai kemanusiaan yang paling hakiki terletak pada sejauh mana seseorang mampu menjaga konsistensi antara ucapan dan tindakannya. Komitmen tersebut bukan sekadar tanggung jawab sosial, melainkan bentuk pertanggungjawaban kepada Sang Pencipta.

​”Begitulah komitmen dan konsistensi setiap orang menjadi penakar etika, moral, dan akhlak mulia kemanusiaannya yang paling hakiki, karena bersifat Ilahiyah,” pungkasnya.

​Penulis: Tim Redaksi

Sumber: Refleksi Jacob Ereste (Banten, Januari 2026)

Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Redaksi

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Bupati Ngawi Resmikan Klinik Utama Dalam Jiwa, Dorong Kolaborasi Layanan Kesehatan bagi Masyarakat

24 Oktober 2026 - 16:02 WITA

The Skinbars Clinic Perkuat Healthy Aging melalui Teknologi EXION dan EXOMIND

22 Oktober 2026 - 10:20 WITA

Tragis! Tuntut Gaji Rp1,4 M Usai 25 Tahun Kerja, Lansia Malang Malah Dideportasi

21 Oktober 2026 - 11:32 WITA

Polisi Temukan Pesta Miras saat Razia Cafe dan Tempat Hiburan Malam di Pacitan

18 Oktober 2026 - 22:39 WITA

Dugaan Kasus Asusila Siswa, APPM Desak Disdik Jatim Bersikap Tegas

16 Oktober 2026 - 15:13 WITA

Kayu Gelondongan Ulin Angkutan Berat Bikin Jalan Amblas di Muara Komam, Sopir Sebut Milik Haji YP

7 Oktober 2026 - 10:10 WITA

Trending di Nasional