BERAU–KALTIM–BORNEOSINARTVNES.COM Aroma khas kopi yang baru diseduh menyelimuti kehangatan kebun kopi di Rest Area Pariso pada kegiatan yang berlangsung hari Sabtu. Agenda yang diinisiasi oleh Sekolah Tani Indonesia ini mengusung konsep keakraban Pengalaman Ngopi di Kebun Bersama Liberika Kebanggaan Daerah. Sebuah momen istimewa yang tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga merawat kebanggaan atas sejarah panjang komoditas kopi lokal.
Selaku pemilik Rest Area Pariso sekaligus tuan rumah, Abdul Rahim Ismail yang akrab disapa Pak Ari memimpin langsung jalannya acara pembukaan pada hari Sabtu tersebut. Beliau membawakan susunan acara serta menyambut hangat kehadiran seluruh tamu undangan di tengah asrinya perkebunan.
Dalam wawancaranya bersama media Borneo Sinar TV di lokasi kegiatan, Pak Ari yang juga bertindak sebagai penyelenggara Sekolah Tani Indonesia mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas terselenggaranya silaturahmi ini. Beliau menyambut baik sinergi seluruh pihak demi memajukan potensi kopi lokal.
Kegiatan bernuansa kebersamaan ini dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Gamalis yang memberikan apresiasi tinggi serta dukungan penuh terhadap penguatan sektor pertanian lokal dan pengembangan potensi Kopi Liberika.
Di sela-sela suasana hangat kegiatan hari Sabtu tersebut, media Borneo Sinar TV juga mengagendakan wawancara khusus dengan Fatoni Saputra selaku Founder dan CEO Sekolah Tani Indonesia yang berkantor pusat di Bandung Jawa Barat. Beliau menyampaikan bahwa inisiasi kegiatan ini dipersiapkan dalam waktu yang cukup singkat yakni sekitar dua minggu.
Fatoni Saputra mengungkapkan rasa haru dan syukurnya karena dalam waktu singkat acara dapat terselenggara dengan begitu lancar dan penuh kehangatan. Beliau juga menegaskan bahwa langkah edukasi serta promosi potensi kopi lokal seperti ini akan terus dilanjutkan secara berkesinambungan di bulan-bulan mendatang.
Perjalanan kopi ini menyimpan kisah perjuangan yang sangat menyentuh. Sosok perintis awal Kopi Liberika di kawasan tersebut adalah Ibu Helmina. Beliau merupakan seorang transmigran asal Nusa Tenggara Timur yang mulai menanam bibit kopi Liberika sejak tahun seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan di Kampung Sumber Mulya Kecamatan Talisayan.
Dengan ketekunan dan rasa cinta yang tulus, Ibu Helmina merawat pohon-pohon kopi tersebut hingga menjadi warisan berharga yang kini terus dijaga keaslian mutunya oleh pengelola kebun demi mengharumkan nama Kopi Liberika.
Dalam rangkaian acara hari Sabtu tersebut, rombongan dan para tamu undangan turut melakukan peninjauan langsung ke lokasi pengeringan serta fasilitas pengelolaan kopi di area kebun.
Peninjauan ini dilakukan untuk melihat dari dekat proses pengolahan pasca panen termasuk ketersediaan air untuk proses pengeringan guna memastikan kualitas biji kopi Liberika yang dihasilkan tetap terjaga dengan sempurna.
Dukungan penuh dari berbagai pihak dalam menjaga warisan kopi dan mendorong pariwisata daerah terlihat dari hadirnya jajaran instansi pemerintah serta tokoh-tokoh lokal.
Tampak hadir Dinas Perkebunan yang diwakili oleh Mansur Tanca, Dinas Pariwisata yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Samsiah, perwakilan dari KPH Utara, serta Mantan Wakil Bupati Agus Tamtomo yang ikut hadir memberikan dukungan moral bersama awak media Borneo Sinar TV yang meliput dari awal hingga selesai.
Momen ngopi bersama di tengah kebun dan peninjauan lapangan pada hari Sabtu ini menghadirkan rasa haru sekaligus rasa bangga yang mendalam bagi seluruh pihak yang hadir. Tidak hanya menikmati cita rasa khas Kopi Liberika, agenda ini semakin memperkuat semangat kebersamaan dalam memajukan ekonomi kreatif berbasis pertanian dan pariwisata.
(tim) redaksi borneosinartvnees. com











