Menu

Mode Gelap
Tim gabungan bergerak cepat padamkan karhutla di poros Jalan Labanan Berau Mobil KT 1380 GI Bebas Angkut Jerigen BBM, Warga Talisayan Berau Resah! Festival Rindu Dumaring ke-2 Resmi Ditutup Gudang PT Wings Surya Driyorejo Terbakar, Api Padam dalam 4 Jam Penutupan Festival Rindu Dumaring ” Menyulam Rindu Menyemai Warisan “.

Jakarta · 23 Apr 2026 22:17 WITA ·

Tantangan Disrupsi Hukum, Ketum DePA-RI Dorong Perwira TNI AU Jadi Pemengaruh Teladan


 Tantangan Disrupsi Hukum, Ketum DePA-RI Dorong Perwira TNI AU Jadi Pemengaruh Teladan Perbesar

JAKARTA-BIRNEOSINARTVNEWS Markas Besar TNI AU (Mabesau) menggelar kegiatan peningkatan kapasitas bagi para perwira, Kamis (23/4/2026). Dalam sesi pembekalan yang digelar secara hybrid, Ketua Umum Dewan Pergerakan Advokat Republik Indonesia (DePA-RI), Dr. Tahir Musa Luthfi Yazid, S.H., LL.M., hadir mengulas pentingnya soft skill di era disrupsi.

​Kegiatan ini diikuti ratusan perwira TNI AU dari seluruh penjuru tanah air, mulai dari Sabang hingga Merauke. Fokus utama materi yang disampaikan adalah pengembangan teknik negosiasi, komunikasi strategis, dan mediasi sebagai alat vital bagi kepemimpinan militer modern.

​Komunikasi sebagai Kunci Pengaruh

​Dr. Luthfi menegaskan bahwa kemampuan berkomunikasi adalah instrumen utama seorang pemimpin untuk memberikan pengaruh positif. Ia menggarisbawahi prinsip, “the better communication, the better your chance to influence.”

​”Melalui kolaborasi ini, saya berharap para perwira dapat mengemban tugas secara profesional, tetap berpegang pada pesan konstitusi, serta mampu membedah akar konflik dengan kemampuan negosiasi yang efektif,” papar Luthfi dalam sesinya.

​”The Man Behind the Gun” dan Kebijaksanaan

​Di tengah kemajuan teknologi militer, Dr. Luthfi mengingatkan bahwa faktor manusia tetap menjadi penentu utama atau the man behind the gun. Ia berpesan agar para perwira tidak hanya bergantung pada kecanggihan alutsista.

​”Teknologi memang penting, namun kebijaksanaan adalah fondasi. Keputusan yang tepat lahir dari perpaduan antara kompetensi teknis dan ketajaman dalam berpikir,” jelasnya.

​Luthfi juga membagikan tips manajemen konflik dengan mengutip pemikiran sahabatnya, Christopher W. Moore, tentang kompleksitas konflik. Menurutnya, konflik paling berat adalah konflik nilai yang berkaitan dengan keyakinan, ideologi, dan adat istiadat.

​”Perwira harus jeli membedakan antara konflik kepentingan dan konflik nilai, serta selalu melakukan validasi data agar tidak terjebak dalam disinformasi,” tegasnya.

​Menjadi Tentara Intelektual

​Menyikapi perkembangan zaman, Luthfi mendorong para perwira agar tidak stagnan di era The Rule of Algorithm. Ia mengajak para perwira untuk terus mengasah intelektualitas dengan meneladani tokoh-tokoh besar seperti Jenderal Soedirman, Jenderal A.H. Nasution, hingga Jenderal Try Sutrisno.

​”Melihat disrupsi hukum yang semakin cepat, para perwira harus selalu adaptif dan senantiasa hadir mewujudkan keadilan sosial,” tutupnya.

​Sebagai informasi, Dr. Tahir Musa Luthfi Yazid, S.H., LL.M. merupakan praktisi hukum dengan reputasi internasional. Beliau memiliki pengalaman kolaborasi dengan National Institute for Dispute Resolution (NIDR) di Washington DC, serta pernah mengajar mata kuliah Comparative Dispute Resolution di University of Gakushuin, Tokyo, di bawah bimbingan Prof. Yoshiro Kusano, mantan Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Hiroshima.

Redaksi Borneosinartvnews (**/Megy)

Artikel ini telah dibaca 15 kali

badge-check

Redaksi

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

KAKI Jatim Dukung Jenderal Gatot Soal Meritokrasi TNI

20 Agustus 2026 - 18:23 WITA

LPKAN Serukan Aparatur Negara “All Out” Mengabdi

16 Agustus 2026 - 19:32 WITA

Polri di bawah Jenderal Listyo Sigit buktikan kinerja dan layak didukung penuh

11 Agustus 2026 - 00:02 WITA

DePA-RI dan UNUSIA Sepakati Kerja Sama PKPA

25 Juli 2026 - 19:39 WITA

Insan Pers Laporkan Hotman Paris ke DPN, Sirait & Co Minta Penegakan Kode Etik

23 Juli 2026 - 12:49 WITA

80 Tahun Polri: LPKAN Ingatkan Kredit Kepercayaan Bukan “Cek Kosong”

2 Juli 2026 - 22:57 WITA

Trending di Jakarta