Menu

Mode Gelap
BONGKAR! Kios Hapis di Berau Disorot, Dugaan Penimbunan Solar Ilegal Saat Minyak Langka Soroti Aktivitas LCT 08, Pengawasan Bongkar Muat Minyak di Berau Diperketat Dihantui Mangkrak 7 Tahun, Proyek Jembatan Rp37 Miliar di Berau Belum Bisa Dipakai Konvoi Pendukung Nomor 1 Meriahkan Kampanye Pilkades Karang Satria Tim gabungan bergerak cepat padamkan karhutla di poros Jalan Labanan Berau

Nasional · 7 Apr 2026 20:08 WITA ·

Metrodollar yang Terkoyak Realita: Ribuan Pabrik Berdiri, Rakyat Bekasi Masih Bergulat dengan Kemiskinan


 Metrodollar yang Terkoyak Realita: Ribuan Pabrik Berdiri, Rakyat Bekasi Masih Bergulat dengan Kemiskinan Perbesar

BEKASI -BORNEOSINARTVNEWS Di tengah deru mesin industri yang tak pernah tidur, Kabupaten Bekasi berdiri sebagai salah satu episentrum ekonomi nasional. Ribuan pabrik (bahkan mencapai hingga 10.000) menjulang, investasi mengalir deras, dan label “Kota Metrodollar” disematkan sebagai simbol kemakmuran. Namun di balik gemerlap itu, realitas sosial justru memunculkan ironi yang kian sulit disembunyikan.

Di sejumlah sudut wilayah, denyut kehidupan masyarakat masih berjuang di antara keterbatasan. Kemiskinan ekstrem, akses ekonomi yang timpang, serta ketidakseimbangan antara kawasan industri dan permukiman warga menjadi potret yang kontras dengan citra kemajuan yang dibangun selama ini.

Fenomena ini menegaskan adanya jurang yang menganga antara pertumbuhan ekonomi dan distribusi kesejahteraan. Industrialisasi yang seharusnya menjadi lokomotif kemakmuran, dalam praktiknya belum sepenuhnya menjangkau akar kehidupan masyarakat. Pertumbuhan seolah berlari kencang, namun keadilan berjalan tertatih.

Secara normatif, arah pembangunan nasional telah jelas. Amanat Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 menegaskan bahwa kekayaan alam harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Sementara itu, melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, pemerintah daerah diberi kewenangan luas untuk memastikan kebijakan yang berpihak pada masyarakat. Namun, implementasi di lapangan masih menyisakan pertanyaan serius.

Semboyan daerah Swatantra Wibawa Mukti yang mengandung makna kemandirian, kewibawaan, dan kemakmuran (secara Siloka: Manusia yang Memanusiakan Manusia sehingga tidak keluar dari Martabat Kemanusiaannya-red) seharusnya menjadi kompas moral pembangunan. Akan tetapi, dalam realitasnya, nilai tersebut dinilai belum sepenuhnya terwujud secara substantif, khususnya dalam aspek pemerataan kesejahteraan.

Ketua Harian RUMAH HEBAT NUSANTARA, Moh Cahyadi yang akrab disapa Den Cupank, menyampaikan pandangan kritisnya terhadap kondisi tersebut. Ia menilai bahwa kekuatan ekonomi Kabupaten Bekasi belum sepenuhnya diarahkan untuk kepentingan rakyat secara menyeluruh.

“Kabupaten Bekasi tidak kekurangan kekayaan, yang kita hadapi hari ini adalah ketimpangan dalam distribusinya. Kurang lebih Sepuluh Ribuan pabrik berdiri, tetapi masih ada masyarakat yang berjuang untuk sekadar hidup layak. Ini bukan semata persoalan ekonomi, ini persoalan arah kebijakan. Jika Swatantra Wibawa Mukti hanya berhenti sebagai semboyan, maka kita sedang kehilangan makna dari pembangunan itu sendiri. Kemandirian harus dirasakan rakyat, kewibawaan harus lahir dari keadilan, dan kemakmuran harus hadir di setiap rumah, bukan hanya di kawasan industri,” tegasnya.

Den Cupank juga menekankan bahwa industrialisasi tanpa keberpihakan sosial berpotensi menciptakan ketimpangan yang semakin dalam. Menurutnya, pembangunan harus direposisi agar tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada pemerataan dan keadilan sosial.

“Kita tidak sedang menolak industri, justru kita ingin industri menjadi alat kesejahteraan. Tapi tanpa keberanian untuk mengintegrasikan kebijakan ekonomi dengan kebutuhan masyarakat, maka yang terjadi adalah kemajuan yang timpang. Rakyat tidak boleh menjadi penonton di tanahnya sendiri. Mereka harus menjadi bagian utama dari pembangunan itu,” lanjutnya, Senin (6/4/2026).

Di tengah dinamika tersebut, kebutuhan akan kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan menjadi semakin mendesak. Kabupaten Bekasi, dengan seluruh potensinya, berada di persimpangan sejarah: melanjutkan pola lama yang menyisakan ketimpangan, atau mengambil langkah berani menuju pembangunan yang benar-benar berpihak pada

Redaksi Borneosinrtvnews: (Aang Amarullah)

Artikel ini telah dibaca 90 kali

badge-check

Redaksi

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Pemdes Santan Ulu Gelar Musrenbangdesa RKPDes dan RKPD 2027

20 Agustus 2026 - 13:39 WITA

Kasus Andreas Pujiono Naik Penyidikan, Pengamat Puji Polres Madiun

20 Agustus 2026 - 03:28 WITA

Arda Fitriana Latih Ibu Rumah Tangga Bisnis dari Rumah

19 Agustus 2026 - 11:32 WITA

Modus Baru Peredaran Rokok Ilegal, Truk Muatan Garam Diduga Jadi Kamuflase

18 Agustus 2026 - 18:22 WITA

Investasi China 3.000 Hektare di Bangkalan Dikritik, KAKI Jatim: Jangan Korbankan Lahan Rakyat!

14 Agustus 2026 - 09:17 WITA

Hari Gajah Sedunia 2026: Difpala, LINKSOS, dan Geopix Gelar Pentas Seni Inklusif

10 Agustus 2026 - 10:17 WITA

Trending di Nasional