LONDON-BORNEOSINARTVNEWS Krisis di Selat Hormuz kini mencapai titik didih yang mengerikan.Berdasarkan laporan yang dihimpun oleh tim redaksi Borneo Sinar TV, Inggris baru saja menggalang kekuatan dari 40 negara untuk membuka blokade jalur minyak dunia. Namun, langkah ini langsung dicap sebagai “misi bunuh diri” karena aliansi raksasa tersebut dianggap tak lebih dari gertakan sambal yang tak punya nyali militer.
Koalisi Tanpa Taring
Dilansir dari Borneo Sinar TV, Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, memimpin pertemuan darurat yang melibatkan negara-negara besar seperti Prancis, Jerman, Italia, hingga Jepang dan UEA. Meski mengutuk keras tindakan Iran yang dianggap menyandera ekonomi global, koalisi ini mendadak ompong karena Presiden AS Donald Trump memilih “cuci tangan” dan menyatakan bahwa menjaga Selat Hormuz bukanlah urusan negaranya.
Horor di Lautan: 23 Serangan, 11 Nyawa Melayang
Kengerian di lapangan bukan sekadar gertakan diplomatik. Berdasarkan kutipan data dari sumber terkait, sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, situasi semakin berdarah:
23 kapal komersial dihantam serangan langsung di wilayah Teluk.
11 awak kapal tewas mengenaskan akibat eskalasi konflik tersebut.
Iran secara terang-terangan hanya menutup jalur bagi “negara musuh”, sementara kapal lain dihantui ancaman rudal pesisir.
Macron: Menyerang Iran Itu Mustahil!
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengeluarkan peringatan keras yang dikutip dalam laporan tersebut. Ia menyebut upaya memaksa pembukaan selat dengan kekuatan militer adalah hal yang sangat tidak realistis.
“Ini bukan pilihan yang masuk akal karena akan membuat kapal-kapal kita menjadi sasaran empuk rudal balistik dan pasukan elit IRGC Iran,” tegas Macron. Baginya, mencoba menembus blokade Iran tanpa strategi matang sama saja dengan mengantar nyawa ke liang lahat.
Hanya Pepesan Kosong
Meski Inggris mencoba pamer kekuatan, aliansi ini terjepit dalam dilema besar. Tanpa dukungan armada tempur Amerika Serikat dan keengganan negara-negara Eropa untuk bertaruh nyawa, gertakan 40 negara ini diprediksi hanya akan menjadi narasi kosong di tengah kepungan rudal dan ranjau laut Iran yang kian mencekik dunia.
Sumber: Dikutip dari SINDOnews | Dilansir oleh Borneo Sinar TV
Jumat, 03 April 2026 (**)











