Menu

Mode Gelap
Perkuat Pemahaman Hukum, PT Adhi Karya Gelar Seminar Sosialisasi KUHP Baru bagi Seluruh Karyawan Dua Bulan Beroperasi Tanpa Izin, Dua Tokoh Sesepuh Maluang Kompak Desak Kapolri Tindak Tegas Penyelewengan BBM Subsidi ke Industri Rp3 Triliun Digelontorkan untuk Jalan Malinau–Krayan, Hasil Masih Dipertanyakan: Agenda Klarifikasi Mendadak Berubah, Publik Kian Curiga Tak Perlu Lewat Calo Lagi! Begini Wajah Baru Layanan Samsat Kabupaten Bekasi Yang Transparan Kegaduhan UU ITE 2024: Antara Jeratan Pidana Video Jusuf Kalla dan Sanksi Administratif Amin Rais

Malinau · 23 Apr 2026 16:35 WITA ·

Negara Kucurkan Rp3 Triliun, Jalan Malinau–Krayan Tak Pernah Sampai Tujuan Hingga Kini: Publik Mulai Bertanya, Ada Apa?


 Negara Kucurkan Rp3 Triliun, Jalan Malinau–Krayan Tak Pernah Sampai Tujuan Hingga Kini: Publik Mulai Bertanya, Ada Apa? Perbesar

Malinau-Kalimantan Utara Borneosinartvnews | 23 April 2026 — Pembangunan jalan perbatasan yang menghubungkan Malinau menuju Krayan kembali menjadi sorotan tajam publik.

Proyek yang telah berjalan sejak awal tahun 2000-an itu disebut telah menghabiskan anggaran negara hingga kurang lebih Rp3 triliun, namun hingga kini belum juga berhasil menembus wilayah Krayan.

Berdasarkan penelusuran di lapangan, jalur yang seharusnya hanya berkisar 150 kilometer menuju Krayan justru belum tersambung secara utuh meski telah dikerjakan selama hampir dua dekade.

Sorotan terbaru mengarah pada paket pekerjaan di wilayah Semamu 1 dan Semamu 2 dengan nilai sekitar Rp200 miliar yang dilelang pada akhir 2025. Hasil investigasi di lapangan menemukan sejumlah kejanggalan, khususnya pada pekerjaan drainase dan pengerasan badan jalan.

Pembangunan drainase diketahui dilakukan di bawah tebing tanpa adanya konstruksi penahan seperti siring atau turap. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi terhadap longsor dan berpotensi merusak struktur jalan yang baru dibangun.

Selain itu, pengerasan badan jalan di beberapa titik diduga tidak melalui perhitungan teknis yang matang. Hasil pekerjaan terlihat tidak sebanding dengan besarnya anggaran yang telah dikucurkan.

Temuan lain juga mengindikasikan bahwa pelaksanaan pekerjaan belum sepenuhnya memperhatikan karakteristik medan pegunungan. Pembukaan trase baru di beberapa titik dinilai berpotensi memperlambat proses penyambungan akses menuju Krayan.

Kondisi di lapangan juga menunjukkan kerusakan di sejumlah titik. Beberapa ruas mengalami penurunan kualitas dan rawan longsor, terutama saat curah hujan tinggi.

Menanggapi berbagai sorotan tersebut, pihak teknis dari balai menyampaikan bahwa pembangunan jalan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi medan serta keterbatasan anggaran.

“Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan sekaligus. Kami lakukan bertahap. Jika terjadi longsor, kami tangani terlebih dahulu agar jalan tetap bisa difungsikan, meskipun sifatnya sementara,” ujar perwakilan dari bidang pembangunan di tingkat balai.

Pihak balai juga menegaskan bahwa tidak semua pekerjaan yang terlihat di lapangan merupakan tahap akhir pembangunan.

“Beberapa penanganan di lapangan bersifat sementara untuk menjaga akses tetap terbuka. Pekerjaan final akan dilakukan setelah tahapan konstruksi lengkap,” jelasnya.

Selain itu, kebutuhan anggaran untuk menuntaskan konektivitas hingga Krayan disebut masih cukup besar.

“Dengan kondisi saat ini, untuk bisa tembus penuh ke Krayan diperkirakan masih membutuhkan anggaran tambahan hingga kisaran Rp6 triliun,” tambahnya.

Namun demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab pertanyaan publik terkait capaian konkret dari anggaran yang telah digunakan.

Di sisi lain, masyarakat Krayan hingga kini masih bergantung pada transportasi udara sebagai satu-satunya akses utama. Keterbatasan jadwal penerbangan serta tingginya biaya membuat mobilitas warga menjadi terbatas dan biaya hidup meningkat.

Sebagai wilayah kategori 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) yang berbatasan langsung dengan Malaysia, kondisi ini membuat sebagian warga masih bergantung pada pasokan kebutuhan pokok dari negara tetangga.

Padahal, jika jalan darat Malinau–Krayan dapat tersambung, waktu tempuh diperkirakan hanya sekitar tiga jam perjalanan, yang diyakini akan menekan biaya logistik, meningkatkan perekonomian lokal, serta memperkuat kedaulatan wilayah perbatasan.

Hingga berita ini diterbitkan, tim Borneosinartvnews masih melakukan konfirmasi lanjutan kepada pihak-pihak terkait guna memperoleh keterangan resmi yang lebih rinci dan berimbang.

Masyarakat berharap negara hadir tidak hanya dalam bentuk anggaran, tetapi juga memastikan setiap proyek berjalan tepat sasaran, transparan, dan mampu menjawab kebutuhan dasar warga di wilayah perbatasan.

Hingga saat ini, pihak terkait belum memberikan keterangan resmi tambahan.

(Tim Redaksi birneosinartvnews)

Artikel ini telah dibaca 55 kali

badge-check

Redaksi

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Rp3 Triliun Digelontorkan untuk Jalan Malinau–Krayan, Hasil Masih Dipertanyakan: Agenda Klarifikasi Mendadak Berubah, Publik Kian Curiga

8 Mei 2026 - 10:26 WITA

Polemik Video Oknum DPRD Malinau Berakhir, Kedua Pihak Sepakat Berdamai

6 Mei 2026 - 20:48 WITA

Oknum Anggota DPRD Malinau Berinisial N Ancam Media saat Dikonfirmasi Terkait Video Dugaan Pesta PoraPerbesar

1 Mei 2026 - 02:19 WITA

​Oknum Anggota DPRD Malinau Berinisial N Ancam Media saat Dikonfirmasi Terkait Video Dugaan Pesta Pora

30 April 2026 - 13:04 WITA

Diduga Cacat Hukum, Pembebasan Lahan Bandara Long Ampung Disorot Kuasa Hukum dan Ketua LIN di BPN Malinau

22 April 2026 - 23:31 WITA

Perkembangan Kasus Pembebasan Lahan Bandara Long Apung Masih Tunggu Data, Pelapor Kecewa

13 April 2026 - 17:22 WITA

Trending di Malinau