Malinau-Kalimantan Utara Borneosinartvnews | 23 April 2026 — Pembangunan jalan perbatasan yang menghubungkan Malinau menuju Krayan kembali menjadi sorotan tajam publik.
Proyek yang telah berjalan sejak awal tahun 2000-an itu disebut telah menghabiskan anggaran negara hingga kurang lebih Rp3 triliun, namun hingga kini belum juga berhasil menembus wilayah Krayan.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, jalur yang seharusnya hanya berkisar 150 kilometer menuju Krayan justru belum tersambung secara utuh meski telah dikerjakan selama hampir dua dekade.
Sorotan terbaru mengarah pada paket pekerjaan di wilayah Semamu 1 dan Semamu 2 dengan nilai sekitar Rp200 miliar yang dilelang pada akhir 2025. Hasil investigasi di lapangan menemukan sejumlah kejanggalan, khususnya pada pekerjaan drainase dan pengerasan badan jalan.
Pembangunan drainase diketahui dilakukan di bawah tebing tanpa adanya konstruksi penahan seperti siring atau turap. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi terhadap longsor dan berpotensi merusak struktur jalan yang baru dibangun.
Selain itu, pengerasan badan jalan di beberapa titik diduga tidak melalui perhitungan teknis yang matang. Hasil pekerjaan terlihat tidak sebanding dengan besarnya anggaran yang telah dikucurkan.
Temuan lain juga mengindikasikan bahwa pelaksanaan pekerjaan belum sepenuhnya memperhatikan karakteristik medan pegunungan. Pembukaan trase baru di beberapa titik dinilai berpotensi memperlambat proses penyambungan akses menuju Krayan.
Kondisi di lapangan juga menunjukkan kerusakan di sejumlah titik. Beberapa ruas mengalami penurunan kualitas dan rawan longsor, terutama saat curah hujan tinggi.
Menanggapi berbagai sorotan tersebut, pihak teknis dari balai menyampaikan bahwa pembangunan jalan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi medan serta keterbatasan anggaran.
“Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan sekaligus. Kami lakukan bertahap. Jika terjadi longsor, kami tangani terlebih dahulu agar jalan tetap bisa difungsikan, meskipun sifatnya sementara,” ujar perwakilan dari bidang pembangunan di tingkat balai.
Pihak balai juga menegaskan bahwa tidak semua pekerjaan yang terlihat di lapangan merupakan tahap akhir pembangunan.
“Beberapa penanganan di lapangan bersifat sementara untuk menjaga akses tetap terbuka. Pekerjaan final akan dilakukan setelah tahapan konstruksi lengkap,” jelasnya.
Selain itu, kebutuhan anggaran untuk menuntaskan konektivitas hingga Krayan disebut masih cukup besar.
“Dengan kondisi saat ini, untuk bisa tembus penuh ke Krayan diperkirakan masih membutuhkan anggaran tambahan hingga kisaran Rp6 triliun,” tambahnya.
Namun demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab pertanyaan publik terkait capaian konkret dari anggaran yang telah digunakan.
Di sisi lain, masyarakat Krayan hingga kini masih bergantung pada transportasi udara sebagai satu-satunya akses utama. Keterbatasan jadwal penerbangan serta tingginya biaya membuat mobilitas warga menjadi terbatas dan biaya hidup meningkat.
Sebagai wilayah kategori 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) yang berbatasan langsung dengan Malaysia, kondisi ini membuat sebagian warga masih bergantung pada pasokan kebutuhan pokok dari negara tetangga.
Padahal, jika jalan darat Malinau–Krayan dapat tersambung, waktu tempuh diperkirakan hanya sekitar tiga jam perjalanan, yang diyakini akan menekan biaya logistik, meningkatkan perekonomian lokal, serta memperkuat kedaulatan wilayah perbatasan.
Hingga berita ini diterbitkan, tim Borneosinartvnews masih melakukan konfirmasi lanjutan kepada pihak-pihak terkait guna memperoleh keterangan resmi yang lebih rinci dan berimbang.
Masyarakat berharap negara hadir tidak hanya dalam bentuk anggaran, tetapi juga memastikan setiap proyek berjalan tepat sasaran, transparan, dan mampu menjawab kebutuhan dasar warga di wilayah perbatasan.
Hingga saat ini, pihak terkait belum memberikan keterangan resmi tambahan.
(Tim Redaksi birneosinartvnews)











