BERAU-BERAU-KALTIM-BORNEOSINARTVNES Keresahan masyarakat di beberapa wilayah Kabupaten Berau memuncak. Warga dari Labanan Jaya, Labanan Makmur, Tumbit, Meraang, SP6, hingga Makarti secara terang-terangan melaporkan dugaan penyimpangan distribusi BBM bersubsidi di SPBU Labanan yang dinilai telah mencederai hak masyarakat umum.
Minggu, 03 Mei 2026 Laporan yang masuk ke redaksi Borneo Sinar TV mengungkap adanya dugaan praktik “permainan” di balik pintu SPBU. Warga menuduh pihak SPBU sengaja melakukan transaksi BBM jenis Pertalite dan Biosolar di luar jam operasional resmi. Mirisnya, BBM subsidi tersebut diduga tidak dijual untuk kendaraan umum yang mengantre, melainkan dialirkan kepada pelanggan pribadi atau oknum tertentu dengan harga yang telah dikerek naik menjadi Rp10.000 per liter.
Modus Operandi dan Penimbunan**
Sejumlah perwakilan warga menyebut bahwa SPBU tersebut diduga hanya menggunakan status “resmi” sebagai kedok. Pada kenyataannya, fasilitas tersebut disinyalir berfungsi sebagai tempat penimbunan BBM subsidi untuk menyuplai kelompok yang mereka sebut sebagai “Mafia Migas”
Masyarakat juga menyoroti adanya upaya penghilangan jejak digital di lokasi. “Kami minta pihak berwenang mengecek rekaman CCTV. Seringkali CCTV di sana dimatikan saat aktivitas bongkar muat atau transaksi ilegal itu terjadi,” ujar salah satu warga yang merasa dirugikan.
Ancaman Aksi Massa
Kondisi ini membuat warga merasa muak dan kehilangan kesabaran. Kelangkaan BBM subsidi yang terus terjadi di tengah masyarakat berbanding terbalik dengan lancarnya pasokan bagi para pengumpul ilegal.
Sebagai bentuk protes keras, masyarakat dari berbagai kampung tersebut mengancam akan mengerahkan massa dalam jumlah besar untuk melakukan demonstrasi jika tidak ada tindakan tegas dari pihak berwenang maupun Pertamina.
Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak pengelola SPBU Labanan terkait tuduhan serius ini.
Pawarta: Rasidin
Redaksi Borneo Sinar TV News











