Tuntut Marwah Sultan, RKB Kaltim Pastikan Aksi 26 Januari Tetap Digelar Akibat Nihilnya Itikad Baik Pertamina
TENGGARONG:KALTIM -BORNEOSINARTVNEWS Jumat(16 /01/ 2026 )– Polemik mengenai posisi duduk Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura, YM Adji Mohammad Arifin, yang berada di barisan ketiga (belakang pejabat daerah) saat acara peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) PT Pertamina pada Senin (12/1), terus bergulir panas di ruang publik Kalimantan Timur.
Kejadian ini memicu gelombang kecaman keras dari berbagai elemen masyarakat adat yang menilai insiden tersebut sebagai bentuk pengabaian terhadap marwah Kesultanan.
Upaya Mediasi Gubernur Kaltim
Pada Kamis sore (15/1), Gubernur Kalimantan Timur, H. Rudy Mas’ud, didampingi istri, Sarifah Suraidah, telah mendatangi Kedaton di Tenggarong untuk menghadap langsung YM Sultan Kutai. Kedatangan tersebut bertujuan untuk menyampaikan permohonan maaf secara pribadi atas ketidaknyamanan protokoler yang terjadi saat kunjungan Presiden Prabowo Subianto. Sultan sendiri telah menyatakan menerima itikad baik Gubernur tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Sikap Tegas Pasukan Sultan (RKB Kaltim)
Meskipun Gubernur telah menunjukkan itikad baik, pihak Remaong Koetaï Berjaya (RKB) Kaltim menyatakan bahwa persoalan ini belum sepenuhnya tuntas. Ketua Umum RKB Kaltim, Hebby Nurlan Arafat, menegaskan bahwa fokus tuntutan kini tertuju kepada pihak penyelenggara utama, yakni direksi PT Pertamina.
“Tetap kita akan aksi itu tanggal 26 karena belum ada itikad baik dari PT Pertamina. Mereka tidak pernah menghadap ke Ayahanda Sultan untuk meminta maaf dan memberikan klarifikasi,” ujar Hebby melalui pernyataan resminya. RKB menuntut permohonan maaf dilakukan secara langsung, bukan sekadar melalui surat atau video klarifikasi.
Menempatkan Adab di Atas Ilmu
Dalam keterangannya, Hebby menekankan pentingnya etika dan penghormatan terhadap simbol daerah di tanah adat Kutai. Filosofi yang diusung oleh pasukan Sultan dalam mengawal kasus ini tercermin dalam pesan yang kini viral
“Beradab sudah pasti berilmu, tapi berilmu belum tentu beradab. Tempatkan adab di atas ilmu.
Pesan ini menjadi kritik tajam bagi pihak korporasi agar tidak hanya mengedepankan kecakapan teknis atau jabatan nasional, tetapi juga menghormati “tuan rumah” dan sejarah setempat.
Rencana Aksi Massa dan Somasi
Masyarakat adat melalui RKB telah melayangkan somasi resmi. Jika tuntutan permohonan maaf langsung dari direksi PT Pertamina tidak dipenuhi, pasukan YM Sultan Kutai mengancam akan melakukan mobilisasi massa pada Senin, 26 Januari 2026. Rencana aksi tersebut meliputi:
Mobilisasi pasukan menuju Kantor Gubernur Kaltim dan Kantor Pertamina Balikpapan.
Ancaman penutupan alur Sungai Mahakam tepat di depan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara sebagai bentuk protes keras.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Kaltim masih menunggu respon resmi dari pihak PT Pertamina pusat terkait tuntutan masyarakat adat tersebut (Ardian)











